Makanan yang Tidak Disarankan Dipanaskan Ulang karena Risiko Kerusakan Zat Gizi
Pengolahan ulang makanan dengan pemanasan berulang dapat menurunkan kualitas gizi dan membentuk senyawa berbahaya. Ahli gizi Dr. Rita Ramayulis menegaskan bahwa tidak semua jenis makanan aman untuk dipanaskan kembali, terutama jika dipanaskan dengan suhu tinggi dan waktu lama.
Menurut Dr. Rita, zat gizi dalam makanan bisa tetap terjaga jika proses pemanasan dilakukan dengan suhu rendah, misalnya hanya dihangatkan hingga 60 derajat Celsius dan tidak sampai mendidih dalam waktu lama. Namun, jika makanan dipanaskan ulang hingga suhu tinggi, terutama dengan cara digoreng kembali, kandungan gizinya akan mengalami penurunan signifikan dan dapat menghasilkan zat karsinogenik yang membahayakan kesehatan.
Proses penggorengan yang menggunakan minyak dalam jumlah banyak, seperti deep frying, menjadi perhatian utama karena minyak yang digunakan berulang kali dapat meningkatkan risiko kerusakan zat gizi serta pembentukan senyawa berbahaya. Oleh sebab itu, makanan yang sudah digoreng sebaiknya tidak dipanaskan kembali dengan metode yang sama.
Dr. Rita juga mengingatkan agar menghindari pemanasan ulang pada makanan yang telah dibakar, mengingat paparan panas tinggi sejak awal sudah menyebabkan kerusakan zat gizi. Selain itu, produk pangan olahan seperti sosis, kornet, dan daging olahan tidak disarankan untuk dipanaskan ulang karena proses pengolahan panjang yang sudah mengurangi kandungan gizinya.
Makanan yang mengandung nitrat juga perlu diperhatikan. Nitrat yang terdapat dalam sayuran hijau seperti bayam, kale, dan kentang dapat berubah menjadi nitrit saat dipanaskan ulang. Nitrit ini diketahui memiliki efek buruk bagi pembuluh darah dan bersifat karsinogenik, sehingga pemanasan ulang pada makanan jenis ini sebaiknya dihindari.