Nasional ยท 11 Jan 2026 05:11

Situbondo Siap Menjadi Tuan Rumah Muktamar NU ke-35 Tahun 2026

Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, menyambut kabar pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang direncanakan berlangsung di Situbondo, Jawa Timur, pada tahun 2026 dengan penuh rasa syukur dan kesadaran spiritual. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi dengan izin dan kekuatan Allah SWT, mengungkapkan sikap rendah hati atas kehormatan yang diberikan kepada pesantren yang dipimpinnya.

Kalimat zikir yang diucapkan Kiai Azaim, "Bismillah maa sya Allah laa hawla quwwata illa billahil aliyyiladhim," menjadi simbol keyakinan bahwa pelaksanaan muktamar tersebut merupakan bagian dari ketetapan Ilahi. Pernyataan ini sekaligus menegaskan kesiapan dan harapan agar acara besar organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut dapat berlangsung dengan lancar dan membawa manfaat bagi umat.

Pada awal Januari 2026, Kiai Ahmad Azaim Ibrahimy turut serta dalam kegiatan tapak tilas sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama. Rangkaian ziarah tersebut dimulai dari makam Syaikhona Muhammad Kholil di Bangkalan, Madura, kemudian berlanjut ke makam Sunan Ampel di Surabaya, dan terakhir ke Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenang perjuangan para ulama pendiri NU, sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai spiritual dan sejarah yang menjadi fondasi organisasi tersebut.

Sejarah pendirian NU pada 31 Januari 1926 melibatkan peran penting KHR As'ad Syamsul Arifin, kakek dari Kiai Azaim, yang menjadi perantara pesan dari gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan, kepada KH Hasyim Asy'ari. Pesan tersebut berupa tongkat, ayat Alquran, tasbih, dan ajaran Asmaul Husna yang mengandung makna restu dan petunjuk bagi berdirinya NU. Jejak sejarah ini menjadi landasan kuat bagi Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo sebagai tuan rumah muktamar yang akan datang.

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo di Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih, Situbondo, memiliki rekam jejak panjang dalam sejarah NU. Pesantren ini sebelumnya pernah menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-27 pada tahun 1984. Muktamar tersebut menghasilkan keputusan monumental berupa penerimaan Pancasila sebagai azas tunggal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang menjadi pijakan penting dalam perjalanan organisasi dan bangsa Indonesia.